Rabu, 25 Januari 2012

bout Puteri Indonesia


Fenomena Putri Indonesia, Sebuah Sejarah dan Analisa


4 Votes
Qory Sandioriva, Agni Pratistha Arkadewi Kuswardono, Nadine Alexandra Dewi Ames, Nadine Chandrawinata
Qory Sandioriva, Agni Pratistha Arkadewi Kuswardono, Nadine Alexandra Dewi Ames, Nadine Chandrawinata
Salah satu lagu favorit Ervan (Erugren) adalah Pecinta Wanita, sebuah judul yang menggambarkan sifat alami seoarng pria normal :p, begitupun aku. Tidak heran bila ada kontes kecantikan perempuan menjadi sesuatu yang menarik untuk diikuti, terutama di negeri ini.
Di Indonesia, tampilnya perempuan di arena publik—khususnya dalam ajang pemilihan figur seorang putri—bukanlah hal yang baru. Pada masa kolonial, ajang pemilihan putri sudah dilakukan, yaitu ketika ajang pemilihan ibu sejati diselenggarakan di Semarang pada Agustus 1938. Meskipun pemilihan ibu sejati diselenggarakan di Semarang, gaung acara tersebut terdengar hingga ke kota-kota terdekat, seperti Solo, Yogyakarta, dan Magelang. Dalam ajang ini sebanyak 62 peserta ikut ambil bagian dan sekitar 3.000-an penonton hadir. Sebagai sebuah fenomena sosial, ajang pemilihan ini tentu saja mendapat sambutan meriah dari penonton, juga dari para pejabat pemerintahan kolonial. Akan tetapi, di balik kesuksesan ajang ini, tampilnya perempuan di arena publik kemudian mengundang kecaman dari berbagai organisasi sosial dan politik.
Pada era 1950-an di hampir semua kota besar di Indonesia diselenggarakan ajang pemilihan putri. Di Yogyakarta, misalnya, ajang pemilihan putri yang didukung sepenuhnya oleh kelas pelajar di kota ini dilaksanakan hampir setiap tahun. Karena ajang ini diselenggarakan oleh para pelajar, mereka yang ikut sebagai peserta dan terpilih sebagai pemenang adalah mereka yang dapat dikatakan mewakili figur seorang putri yang cerdas dengan latar belakang sosial yang baik. Para pemenang kemudian akan tampil sebagai model untuk sampul-sampul majalah lokal, sekaligus akan mempromosi kan batik dan lurik dalam ajang kontes mode yang diadakan di Yogyakarta.
Dewasa ini , ditingkat nasional terdapat dua kontes kecantikan, Putri Indonesia ( Miss Indonesia – Universe ) dan Miss Indonesia ( Miss Indonesia – World ).
Putri Indonesia , merupakan icon representative budaya negeri ini. Dari sekian finalis/kontestan dari seluruh provinsi di Indonesia mereka dipilih. Konsepnya adalah  mencari perempuan Indonesia yang memiliki tiga kriteria utama, yaitu :
  • Brain (Intelegensia) – memiliki kecerdasan, memiliki minat belajar tinggi dan mandiri
  • Beauty – Pandai merawat diri, bersih, cantik dan berpenampilan menarik
  • Behaviour – Percaya kepada Tuhan YME, berkepribadian luhur, memiliki etika hidup dan kepedulian terhadap sesama
Putri Indonesia dinaungi oleh Yayasan Putri Indonesia bekerja sama dengan Mustika Ratu dimana mulai tahun 1992 yayasan ini menggelar untuk pertama kalinya. Pada pegelaran pertama tersebut , Indira Paramarini Sudiro dimahkotai sebagai Putri Indonesia dan direncanakan mengikuti ajang Miss Universal.
Namun rencana tersebut batal karena Kementrian Urusan Wanita tidak menghendaki adanya perwakilan Indonesia di ajang tersebut. Alasan nya adalah adanya sesi kontes Swimsuit, yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Hal itu juga terjadi pada saat Alya Rohali terpilih menjadi Putri Indonesia pada tahun 1996, sehingga akhirnya mereka hanya datang ke negara penyelenggara sebagai pengamat. Bahkan Alya Rohali mendapat kecaman dari Menteri Urusan Peranan Wanita, Mien Soegandhi yang mengatakan bahwa mengikuti ajang seperti itu tidak sesuai dengan kepribadian wanita Indonesia. Dan dasar semua itu adalah hanya karena ada kontes bikini.
Ketidak ikutsertaan Putri Indonesia berlanjut hingga tahun 2004. Kebetulan saat krisis moneter 1997, ajang ini tidak digelar hingga 1999. Tahun 2000, ajang kembali digelar tanpa keikutsertaan ke Miss Universe. Lagi – lagi dengan alasan “ Tidak sesuai dengan kepribadian Wanita Indonesia “
Secara sempit sebagaian masyarakat dan pemerintah hanya melihat karena adanya Kontes Bikini. Tidak melihat aspek lain yang berguna. Padahal sejak dimulai reformasi hingga sekarang, Indonesia sudah dijejali tontonan – tontonan “kotor” yang sekedar mengexplorasi wanita. Sinetron, film dst.yang bersembunyi dibalik kekuatan Penegakan HAM.
Panitia Miss Universe sebenarnya sudah cukup pengertian dengan peserta dari negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, dengan memberikan toleransi one piece bukan bikini. Meski Miss Universe mengedepankan  kecerdasan, visi dan misi serta keahlian si peserta memang tidak munafik kecantikan juga menjadi daya tarik utama.
Keikutsertaan Putri Indonesia lagi pada tahun 2005 dengan Artika Sari Devi sebagai Miss Indonesia. Beliau berhasi menempati posisi 15 besar, sebuah pencapaian tertinggi dari perwakilan Indonesia yang hingga tulisan ini ditulis belum bisa dilampaui.
Artika Sari Devi & Qory Sandioriva
Artika Sari Devi & Qory Sandioriva
Selain kontroversi keikutsertaan di Miss Universe, peserta pemilihan Putri Indonesia juga tidak luput dari kontroversi. Seperti yang dijelaskan di atas, setiap peserta mewakili nama suatu daerah. Namun ada beberapa peserta yang tidak “fasih” dalam menjabarkan budaya daerah yang diwakili, seperti Putri Indonesia Qory Sandioriva yang sempat memicu kemarahan masyarakat NAD. Yang terlebih parah adalah pengetahuan sejarah dan kebangsaan yang dangkal. Juga kemampuan akan bahasa inggris yang kurang.
Hampir sama dengan Putri Indonesia, pemenang Miss Indonesia dikirim ke ajang internasional, Miss World. Ajang kecantikan yang dinaungi oleh MCN dan Yayasan Miss Indonesia bekerjasama dengan Sari Ayu ini baru digelar di tahun 2005.
Aspek yang dipakai dalam penilaian Miss Indonesia mengalami perkembangan dari edisi ke edisi, yaitu :
  • 2006: C2B2 – Cantik, Cerdas, Berbakat, Berbudi
  • 2007: BE SHE – Beautiful, Smart, Healthy, Eastern Value
  • Sejak 2008: MISS – Manner, Impressive, Smart, Social
Sebagai penutup,
Indonesia adalah Negara yang mempunyai komoditas pariwisata yang berlimpah begitu pula alam rayanya. Pariwisata bisa menjadi tiang ekonomi bangsa ini, selagi sumber alam dikeruk perusahaan bangsa lain dan penyakit epidemic moralitas pemimpin bangsa ini yang tidak sembuh – sembuh. Untuk itu harus ada yang menunjukkan betapa cantiknya negeri ini, dan salah satunya adalah dengan Duta Pariwisata Internasional, seperti Putri Indonesia.
Btw, siapa Putri Indonesia & Miss Indonesia favoritmu ?
( beberapa informasi diambil dr DINAMIKA PEMILIHAN “PUTRI INDONESIA” PADA MASA ORDE BARU Oleh : Mutiah Amini )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar