Senin, 17 Januari 2011

Plastic Surgery in Korea, Japan and China

Allow balik lagi nih buat ngobrol-ngobrol seputar Jepang Korea dan China. Kali ini pembahasannya tentang Operasi Plastik [OPLAS].


Aku tertarik mengenai pembahasan ini karena sekarang yang namanya hakikat kecantikan dan kegantengan sudah membuat semua orang buta dan juga memilih jalan pintas yang menyakitkan yaitu Operasi Plastik. Info yang kubagi ini merupakan gado-gado dari beberapa artikel yang kudapat hasil browsingku selama ini. But lumayan lah buat sharing info.

Kalo bicara masalah Oplas, pastinya yang terkenal diantara ketiga negara asia timur ini adalah KOREA. Sebuah negara yang tidak hanya memiliki sebutan ‘Negeri Ginseng’ namun juga memiliki nama lain yaitu “Republik of Plastic Surgery’.Hal ini disebabkan tingginya minat masyarakat untuk memperbaiki bentuk wajah dan tubuh melalui operasi plastik. Spesialis bedah plastik selalu full book menjadikan bidang ini sebagai pilihan pertama setiap mahasiswa yang kuliah kedokteran, diikuti oleh bidang opthamology dan Dermatology. Ketiga bidang yang erat hubungannya dengan kecantikan.

Semua orang pastinya ingin cantik, dan sebelum bicara lebih dalam lagi kayaknya kita perlu tahu dulu, sebenarnya ada beberapa alasan mengapa orang ingin cantik/tampan:

1.Looks defines sucsess. Orang yang berwajah cantik mendapatkan berbagai kemudahan mulai dari mencari teman, pacar bahkan perkerjaan. Seseorang yang menarik lebih muda mendapatkan kepercayan yang tentu sangat diperlukan bagi sebagian perusahaan untuk menarik pelanggan. Demikianlah, salah satu tujuan para wanita maupun pria melakukan operasi plastik untuk memperbaiki kekurangan atau mempercantik diri adalah sebagai modal sebelum melamar kerja.

2. Cultural trend. Dulunya orang percaya dengan inner beauty, namun sekarang dengan bergesernya nilai-nilai personal dan menjamurnya budaya konsumerisme bergeser pula apa arti kecantikan sebenarnya. Media massa meliputi TV, majalah, internet, juga ikut mendifine apa yang dinamakan kecantikan: mata besar, tulang pipi tinggi, bibir seksi, rahang tipis, rambut panjang, tubuh tinggi dan skinny, membuat mereka yang tidak termasuk kategori tersebut menjadi minder dan merasa tidak diterima.

3. Not Dare to be Different. Yang ini adalah budaya orang Korea yang homogenous, perbedaan adalah aib. Dari trend berpakaian, cara dandan, pendidikan, bisnis semua sudah ada standardnya. Karena tidak ingin dirinya menjadi aneh dan alienated apalagi diberi label ugly, seseorang rela mempertaruhkan credit card dan nyawanya di sayat pisau bedah.

Banyak wanita yang rela menguras habis uang mereka untuk mengubah wajah.

Bahkan tak jarang, mereka rela pergi ke luar negeri untuk memenuhi impian tersebut. Council for Korea Medicine Overseas Promotion beberapa waktu lalu mengatakan bahwa mulai tahun 2005 jumlah pasien operasi plastik meningkat tajam.

Tahun 2005 tercatat ada 760 orang yang menjadi pasien, pada akhir tahun jumlahnya justru melonjak jadi 16.000 orang. Meningkat lebih dari 20 persen. Rata-rata pasien yang datang adalah warga negara China, Jepang, Singapura, dan Indonesia.

Ada beberapa data mengejutkan yang didapat

76% wanita Korea berumur 20-30 tahunan sudah operasi plastik
25% ibu-ibu Korea menyuruh anak 12-16 tahunnya untuk operasi plastik
27,4% lulusan universitas yang sedang mencari kerja merasa ga PD untuk job interview karna alasan penampilan fisik mereka95% orang korea yang punya lipatan di kelopak mata itu hasil oplas semua.

Wuihhh gile gak tuh..

Tapi jangan dikira demam operasi plastik ini cuma diderita cewe-cewe. Ternyata, 40% pasien di klinik operasi plastik di Korea adalah kaum pria!

Dengan semakin majunya teknik bedah plastik yang kini telah mampu membuat hasil operasi se'alami’ mungkin, berubahnya pandangan masyarakat—pria khususnya—terhadap operasi plastik dan meningkatnya kesadaran pria akan penampilannya, kini telah banyak pria mengunjungi dokter bedah plastik untuk minta sedot lemak, mengecilkan payudara, memancungkan hidung, memperbesar kelopak mata atau ‘mempermak’ bagian lain dari wajahnya.

Bahkan, ada pula yang ingin memperbesar penisnya dengan bedah plastik. Sebagai tambahan, biaya operasi yang kian terjangkau juga dapat diperhitungkan sebagai salah satu faktor pendukung. Yang jelas, tampaknya operasi plastik kosmetik telah mulai mendapat tempat di hati pria, terutama mereka yang peduli pada penampilannya.

Meski demikian, pertimbangan pria mengenai segi kosmetis dari bedah plastik ini agak berbeda dengan wanita. Bila wanita cenderung memilih bedah plastik untuk meningkatkan nilai estetik dari suatu bagian tubuhnya--yang terkadang normal-normal saja, pria memilih bedah plastik untuk menutupi atau mengatasi kekurangan dari suatu bagian tubuhnya yang memang kurang sempurna.

Dunia ini emang ada-ada aja. Yang namanya manusia tidak pernah puas emang. Setelah berputar-putar di belahan bumi sebelah sini, mari kita melirik belahan bumi sonoan dikit. Di negara-negara Timur Tengah, trennya operasi plastik beda lagi. Kalo orang sana sukanya operasi untuk ngecilin mata sama naikin ujung luar matanya ke atas (supaya mirip kayak mata orang-orang Cina gitu lho). Sama satu lagi yang ngetren juga, motong hidung supaya tidak terlalu mancung.[khe khe khe ya ampyunn gak bersyukur banget sih!)

EVOLUSI KECANTIKAN

Bagaimanapun juga, sejak zaman dahulu kala, (kebanyakan) perempuan biasa “berkorban” untuk kecantikan. Coba lihat saja, perempuan-perempuan Mesir kuno zaman Cleopatra atau Nefertiti, seperti juga ratu-ratu Jawa kuno, memiliki ramuan-ramuan perawatan tubuh tersendiri untuk membuat kulit tubuh lebih halus dan cantik.

Kalau itu baru sebatas perawatan tubuh, masyarakat Eropa zaman Victoria punya cara tersendiri untuk membuat tubuh terlihat ramping. Mereka menggunakan pakaian dalam khusus, seperti korset yang cara pemakaiannya harus diikat dengan sangat kuat (terkadang memerlukan bantuan lebih dari dua orang) pada pinggang dan perut untuk memberikan aksen pinggang kecil nan ramping.

Kaum perempuan Cina zaman dahulu mengikat telapak kakinya sampai kaki-kaki mereka tidak mampu berkembang lagi. Sebab perempuan yang cantik ketika itu adalah perempuan yang memiliki kaki yang sangat kecil dan berjalan berjinjit-jinjit. Atau pada tahun 50-an, kaum perempuan berlomba-lomba mogok makan dan membuat tubuh mereka menjadi sekuruskurusnya, sampai mengidap penyakit Anorexia. Era ini disebut era Twiggy, sebagai dedikasi kepada sang panutan, super model Twiggy yang super kurus.

Kisah-kisah di atas adalah beberapa kasus derita kaum perempuan dari masa ke masa untuk menjadi cantik. Penderitaan yang tak jarang akhirnya menjurus pada kematian.

Perempuan memang sering kali terjebak dalam pemahaman kecantikan yang dikonstruksikan oleh masyarakat. Kecantikan pun kerap berbeda dan berubah-ubah, tergantung pada masyarakat dan kurun waktunya. Di Dayak, Kalimantan, tato di tubuh perempuan-perempuannya menyimbolkan kecantikan mereka. Demikian pula dengan anting-anting besar dan berat yang dipasang di lubang telinga mereka hingga membuat lubang telinga mereka semakin besar dan memanjang ke bawah.

Gelang-gelangan yang dipasangkan di leher menjadi simbol kecantikan beberapa suku di Afrika. Semakin banyak gelang-gelang tersebut, semakin panjang leher mereka, maka semakin cantiklah mereka.

Negara yang berasaskan agama seperti Irak pun tak luput dari praktik operasi plastik. Operasi plastik dilakukan kaum perempuan untuk memercantik diri bagi suami, atau untuk mendapatkan pasangan hidup. Operasi plastik yang paling populer dilakukan adalah memperkecil hidung.

Inilah gambaran evolusi kecantikan sampai saat ini. Simbol kecantikan bisa diperoleh dengan lebih mudah dan lebih instan. Cukup di meja operasi. Cuma, mungkin ideom “suffer for beauty” masih akan tetap abadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar