Sabtu, 18 Desember 2010

PERJALANAN SEJARAH LAGU-LAGU PERJUANGAN INDONESIA DALAM KONTEKS PERSATUAN BANGSA

A. Arti Nasionalisme

Berkembangnya nasionalisme modern di Eropa yang dipelopori oleh para akhli ilmu pengetahuan, di Indonesia lahir kebangkitan nasional yang dipandang sebagai awal tumbuh dan berkembangnya sejarah yang pertama kali dipelopori oleh tokoh pergerakan kebangsaan seperti Dr. Sutomo dan Dr. Wahidin Sudirohusodo. Bangkitnya nasionalisme ditandai lahirnya semangat kebangkitan nasional melalui organisasi Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908. Dengan tujuan “mencerdaskan bangsa”, berdasarkan kesadaran, tekad, dan upaya untuk mamajukan bangsa atas dasar falsafah dan wawasan yang bersumber pada kepribadian nusantara, didukung para cendekiawan berbasis pada pendidikan nasional untuk melawan bangsa penjajah.1

Nasionalisme merupakan kesadaran bersama yang dapat mempersatukan suku-suku bangsa yang hidup dinusantara. Nasionalisme di Indonesia lahir bersamaan dengan tumbuhnya keinginan seluruh rakyat Indonesia membentuk negara kesatuan.2 Dalam perjalanan sejarah Indonesia bangsa Belanda pernah mengajarkan instrumen musik Barat kepada abdi dalem di kesultanan kraton Yogyakarta dan kasunanan kraton Surakarta tujuannya agar dapat memainkan lagu kebangsaan ‘Wilhelmus’, saat upacara kunjungan tamu resmi para pejabat dari negeri Belanda. Selain itu perlakuan istimewa terhadap lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ serta diakuinya bahasa melayu sebagai bahasa nasional memicu timbulnya peluang dan konflik bagi kelompok cendekiawan Jawa yang ingin menguasai lagu kebangsaan dengan alternatif musik ritual yang khas dapat mewakili puncak kebudayaan nasional melalui instrumen gamelan. Usaha itu dilakukan dengan mencoba mengerahkan para empu gamelan di tahun 1930-an untuk dapat memodernisasi gamelan baik dari segi praktek maupun teori. Perubahan-perubahan dalam notasi musik diantaranya pernah ditulis dalam buku kecil Mr. Muhammad Yamin, bahwa usaha-usaha untuk memainkan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ terbukti mengalami kegagalan, oleh karena secara teknis lagu itu memakai sistem tangganada diatonis, sedang untuk instrumen gamelan menggunakan tangga nada pentatonik.

Pada masa perjuangan Indonesia melawan kolonialisme perkembangan musik diatonis berubah menjadi fenomena politik, disebabkan perbedaan pandangan tentang musik nasional. Perkembangan musik diatonis sebagai sarana pendidikan nasionalisme mengalir seiring munculnya generasi penerus setelah W.R. Supratman dan M. Syafei pendiri sekolah I.N.S. Kayutanam di Sumatera Barat, yaitu diantaranya munculnya para pemusik asal daerah Tapanuli dengan latar belakang pengetahuan musik gereja misionaris Jerman yang cukup handal. Para pemusik terkenal itu ialah Cornel Simanjuntak (komposer), Amir pasaribu (komposer, kritikus), J.A. Dungga (krtikus), L. Manik (komposer), Binsar Sitompul (komposer) dan W. Lumban Tobing (Etnomusikolog).3 Di Jawa dikenal Ismail Marzuki (komposer), Kusbini (komposer), Bintang Sudibyo (komposer), R.A.J. Soedjasmin (komposer, pendidik). Para pemusik ini tidak hanya beranggapan bahwa budaya musik nasional eksotisme tidak boleh dibangun diatas budaya musik jawa, tetapi harus mengikuti pola musik diatonis secara umum lebih mudah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai kebinekaannya. Usaha seperti ini sebenarnya sudah dirintis jauh sebelum itu oleh para pemuda di tahun 1920-an menjelang Sumpah Pemuda, mengenai peranan musik diatonis yang dapat mewakili berbagai suku di Indonesia. Diantaranya dihimpun oleh organisasi kepemudaan yaitu paguyuban Pasundan, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Timorch Verbond, Kaum Betawi, Sekar Rukun, Islamieten Bond. Perkumpulan itu adalah cikal bakal perjuangan kedaerahan setelah tahun 1926 meningkat kearah persatuan pemuda semakin kuat. W.R. Supratman sebagai seorang pemuda patriotis sering mengikuti rapat-rapat tersebut yang dimulai dari gang Kenari sebelum Sumpah Pemuda dicetuskan, hingga ia berkewajiban mendorong semangat persatuan melalui lagunya.

Sejak itu tumbuh dan berkembangnya nasionalisme di Indonesia, tidak hanya semata-mata didasarkan pada persamaan-persamaan sikap primordialisme, akan tetapi sudah bersifat terbuka. Di ilhami oleh cita-cita kebangkitan nasional dari tahun 1908, pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda, yaitu satu Nusa, satu Bangsa, dan satu Bahasa. Bahasa Melayu yang diakui sebagai bahasa nasional, merupakan suatu kekalahan bagi bahasa Belanda, sebagai simbol ikrar, teks Sumpah Pemuda serta lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ memakai bahasa Indonesia serta sekali gus diakuinya musik diatonis. Akhirnya disimpulkan guna menetralisir keanekaragaman para pemuda Indonesia perana musik nasioanl tidak lagi berpihak kepada etnis Jawa atau lainnya, tetapi harus bersifat universal seperti dalam kedudukan musik diatonis. Oleh karena itu sistem tangga nada selendro dan pelog yang mendasari lagu-lagu instrumen gamelan perlu dihindari.4

B. Fungsi dan Jenis Lagu Perjuangan

Lagu Perjuangan Indonesia disebut dengan istilah musik fungsional yang diciptakan untuk tujuan nasional. Dalam sejarah musik dikenal bahwa musik berfungsi mengiringi peribadatan agama (ritual), musik mengiringi tari berfungsi sebagai sarana hiburan. Fungsi primer lagu-lagu perjuangan Indonesia adalah sebagai sarana upacara, dimana kedudukan para pemain dan peserta didalam seni pertunjukan harus dilibatkan, hingga seni pertunjukan jenis ini bisa disebut the Art of Participation. Fungsi sekunder lagu-lagu perjuangan sebagai media agitasi politik berguna untuk membangkitkan semangat perjuangan melawan penindasan, dan keberadaan jenis lagu-lagu ini di Indonesia pada masa perang kemerdekaan jumlahnya cukup banyak. Sebagai seni pertunjukan dalam lagu-lagu perjuangan, idiom musik barat dikemas berdasarkan kemampuan musikalitas masyarakat pendukungnya. Unsur teknis bernyanyi tidak begitu penting, diutamakan makna serta isi teks lagu bersifat agitasi disampaikan dan dihayati oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Secara umum pengertian lagu-lagu perjuangan adalah kemapuan daya upaya yang muncul melalui media kesenian di dalam peranannya pada peristiwa sejarah kemerdekaan di Indonesia. Upaya ini disebut sebagai sikap patriotis didalam konteks sejarah sebelum dan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Dalam pengertian yang luas sebagai perasaan nasional lagu-lagu perjuangan disebut sebagai lagu wajib, diajarkan mulai pada tingkat pendidikan dasar, hingga perguruan tinggi dan wajib diketahui seluruh masyarakat Indonesia. Berdasarkan peraturan pemerintah melalui Intruksi Menteri Muda Pendidikan dan Pengajaran dan Kebudayaan Nomor. 1 tanggal 17 Agustus 1959, diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1963, telah ditetapkan 7 buah lagu-lagu perjuangan sebagai lagu wajib yaitu (1) lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ ciptaan W.R. Supratman. (2) lagu ‘Bagimu Neg’ri ciptaan Kusbini. (3) lagu ‘Maju tak Gentar’ ciptaan Cornel Simanjuntak. (4) lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ ciptaan Ismail Marzuki. (5) lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’ ciptaan Ismail Marzuki. (6) lagu ‘Berkibarlah benderaku’ ciptaan Bintang Sudibyo, dan (7) lagu ‘Satu Nusa satu Bangsa’ ciptaan L. Manik. Dalam uraian berikut ini dijelaskan pula tentang apa yang dimaksud sebagai sebagai jenis lagu-lagu perjuangan Indonesia menjadi empat jenis sebagai berikut.

1. Lagu Himne

Himne atau Himnos dalam bahasa Yunani diartikan untuk penghormatan dan pemujaan kepada dewa, para pahlawan atau tokoh pemimpin terkemuka, terutama dipersembahkan sebagai tanda perdamaian atau pernyataan terimakasih kepada dewa Apollo. Pada perang Dunia II jenis lagu ini berkembang dan dipakai dalam kemiliteran di Inggris untuk diperdengarkan kepada serdadu guna memotivasi moral para prajurit di medan pertempuran seperti dalam lagu ‘there’ll be an England’.

Di Indonesia pada masa perang kemerdekaan jenis lagu himne menjadi inspirasi para pencipta di masa pendudukan tentara Jepang tahun 1942-1944, sebagai pemujaan dalam membangun moral cinta tanah air, berjuang di jalan kebenaran. Pada masa revolusi jenis lagu-lagu ini dinyanyikan secara teratur oleh para pemuda pemudi pelajar pelajar di Yogyakarta sebagai pusat perjuangan untuk dipergunakan pada perayaan upacara di istana Kepresidenan dalam aubade dan paduan suara pada acara resepsi kenegaraan, pertunjukan kesenian atau dalam acara siaran radio. Lagu tersebut ialah ‘Bagimu Neg’ri’ ciptaan Kusbini, ‘Tanah Tumpah Darahku’ ciptaan Cornel Simanjuntak, ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ ciptaan L. Manik, ‘Mengheningkan Cipta’ ciptaan T. Prawit.

2. Lagu Mars

Mars dalam bahasa Inggris disebut Marche, dalam bahasa Perancis disebut Marcia. Mars ialah musik dengan irama cepat berfungsi untuk membangkitkan semangat pasukan dengan gerak langkah serempak dalam prosesi militer yang rapih. Musik mars merupakan ornamentasi irama drum dalam tempo cepat, dengan aksen yang kuat dikembangkan kedalam frase kunci mayor.

Di Indonesia lagu-lagu mars patriotik pada masa perang kemerdekaan digunakan dalam bentuk yang sama oleh para pemuda yang dikirim bertempur ke garis depan. Berlainan dengan jiwa semangat lagu mars propaganda Jepang yang diatur dan ditentukan oleh Keimin Bunka Shidosho. Sebagai perasaan nasional dalam perkembangannya jenis lagu-lagu ini dapat dibagi menjadi dua yaitu, pertama, fungsi primer lagu mars bersifat konstruktif memiliki makna sebagai sarana upacara disebut jenis magnetic song, yaitu lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ ciptaan W.R. Supratman, bila lagu ini berkumandang para peserta upacara harus berdiri tegap di tempat dengan pandangan kedepan, hingga setiap warga negara akan dirinya sebagai bangsa yang merdeka dan tidak jarang orang menitikan air mata atas keagungan lagu tersebut. Kedua, fungsi sekunder lagu mars perjuangan bersifat membangkitkan semangat cinta tanah air melawan penjajahan bersifat uraian seperti pidato yang bersenandung memiliki makna agitasi disebut jenis rheoric song dinyanyikan dalam prosesi berjalan contohnya adalah lagu ‘Maju tak Gentar’ ciptaan Cornel Simanjuntak, ‘Sorak-sorak Bergembira’ ciptaan Cornel Simanjuntak, ‘Hallo-hallo Bandung’ ciptaan Ismail Marzuki, ‘Berkibarlah Benderaku’ ciptaan Bintang Sudibyo, ‘Hari Merdeka’ ciptaan H. Mutahar, ‘Dari Barat Sampai Ketimur’ ciptaan R. Sunaryo.

3. Lagu Percintaan

Pada masa revolusi di Indonesia selain jenis lagu himne dan mars, muncul pula lagu-lagu perjuangan yang bernuansa percintaan erat kaitannya dengan perasaan romantika para pemuda dalam suasana cinta yang mengharukan. Hampir semua lagu-lagu jenis ini bercerita tentang perjuangan dan cinta yang dialami seor

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar